by admin | Oct 3, 2021 | PRESS Release, Uncategorized |
Politik merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antar masyarakat serta hubungan antar masyarakat dengan negara. Sebagai maskyarakat, dan sebagai warga negara, maka kita wajib mengerti terkait politik. Namun, kini politik digambarkan negatif. Dalam pemilu 2019, KPU menyatakan bahwa millennial menyumbang suara sebesar 40%, tetapi ternyata menurut hasil survey J&R ternyata sekitar 40% dari pemilih millennial ternyata melakukan Golput. Angka ini tentunya cukup besar, dan hal ini diasumsikan terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat utamanya para generasi millennial tentang politik. Di dalam kampus, partisipasi politik sendiri dapat terlihat mudah dari pergerakan para aktivis mahasiswa dalam menanggapi isu-isu yang sedang berkembang, serta keturutsertaan mereka dalam kontestasi pemilwa. Selama ini berkembang stigma bahwa mahasiswa MIPA adalah mahasiswa yang tidak peduli dengan politik karena mereka selalu fokus dengan akademik mereka masing-masing.
Oleh karena itu, Departemen Sosial dan Politik BEM FMIPA UNY mengadakan kegiatan diskusi Padepokan Diskusi Mahasiswa yang mengangkat tema “Saintis dan Sikap Politis yang Apatis” dibersamai oleh dua narasumber yaitu Prof. Dr. Ariswan, M.Si. selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY dan Sih Utami, SIP., MM selaku Kepala Sub Bidang Pendidikan dan Politik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY
Politik suatu ilmu pengetahuan yang menyiapkan politisi untuk menjadi pemimpin dari sebuah bangsa agar secara maksimal bisa memberi peran dan manfaat untuk mencapai kemajuan bangsa itu. Seorang saintis dapat terjun ke dalam dunia politik agar nilai kemipaan bisa muncul di kalangan para politisi seperti jujur, optimisme, growth mindset sehingga dapat menjadikan bangsa untuk menyejahterakan rakyatnya.
Para politisi di negeri kita belum memegang teguh pada nilai politik itu sendiri. Sekarang para pejabat politik seperti gubernur, bupati tersandung korupsi. Para politisi kita banyak tidak konsisten dengan politik itu sendiri. Perlu gerakan moral agar para politisi dapat berpolitik sesuai dengan yang para ahli politisi ajarkan sebagai akademisi. Para mahasiswa dan alumni MIPA diharapkan untuk melek politik. Salah satu wadah untuk belajar berpolitik adalah melalui organisasi mahasiswa. Aktivis mahasiswa dapat memberi contoh untuk aktif berpolitik dan dapat mengajak para mahasiswa untuk turut serta. Para mahasiswa MIPA dapat mengkritisi pimpinan fakultas agar politik di MIPA dapat berjalan dengan baik.

Berdasarkan data jumlah pemilih berdasarkan generasi pada pemilihan tahun 2020 di wilayah DIY, jumlah generasi Z yaitu 19% atau 306.400 orang dan milenial sebanyak 28% atau 643.343 dari jumlah total penduduk DIY yaitu 2.097.463. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda belum berperan andil dan juga masih acuh tak acuh terhadap politik. Padahal kontribusi mereka di politik sangat dibutuhkan. Pasalnya, generasi Z merupakan generasi yang memiliki pikiran terbuka, hemat, menyukai kampanye yang kekinian, menghendaki perubahan sosial, sanggup berkompromi dan asyik dengan teknologi. Kontribusi generasi Z di bidang politik dapat memperbaiki stigma buruk mengenai politik di mata masyarakat. Sikap acuh tak acuh terhadap politik ini disebut sebagai sikap apatis terhadap politik.
Penyebab muncul sikap apatis atau alergi terhadap politik yaitu kemudahan mengakses informasi tidak dibarengi dengan literasi politik, banyaknya berita yang menunjukkan sisi “buruk”dari politik (politik itu kotor), maraknya kasus korupsi, kolusi, nepotisme yang dilakukan politisi, praktik politik uang yang selama masa pemilu (serangan fajar), kesulitan menyampaikan aspirasi kepada wakil rakyat dan anggapan mengenai diskusi tentang politik hanya terbatas di kalangan elite kepentingan saja.
Fenomena sekarang menunjukkan bahwa generasi muda terdoktrin dengan informasi yang berkembang di media sosial tentang stigma buruk politik. Ini merupakan salah satu kejamnya dari internet karena menyuguhkan informasi atau hal-hal negatif politik yang tidak diimbangi oleh literasi politik. Informasi tersebut di antaranya kasus penyelewangan wewenang oleh oknum politisi, politik yang saling menjatuhkan, rekayasa hukum, manipulasi aspirasi masyarakat dan pengalaman buruk menemukan politik yang di masa-masa pemilu.
Padahal anak muda dapat mengambil peran yang banyak di dalam politik di antaranya yaitu membangun kesadaran untuk lebih belajar tentang aktivitas dan institusi politik, kewenangan dan peran lalu membangun literasi politik dengan aktif dalam forum diskusi. Kemudian memahami penyakit-penyakit demokrasi dan memetakan strategi pencegahan dari lingkungan di sekitar, berpartisipasi politik dalam pemilu dengan memilih pemimpin yang berintegritas serta ikut terlibat dalam penyelenggaraan pemilu. Pola pikir anak muda sangat dibutuhkan, mereka bersifat kritis sehingga cenderung tidak mau berhubungan dengan perilaku menyimpang.
Pada dasarnya semua orang itu baik dan menginginkan semua sendi kehidupan itu menjadi lebih baik. Ketika kita menginginkan kebaikan berarti kita harus mewakilkan suara kita pada orang-orang baik, yang amanah dan mempunyai kapabilitas dalam dunia politik, berintegritas dan mampu menyuarakan kebenaran dan keadilan. Anak muda mempunyai peran penting dikarenakan yang akan mengambil estafet kekuasaan, jadilah warga negara yang cerdas, bijak dan bertaanggung jawab terhadap proses pemerintahan. Politik itu memerlukan orang baik, maka jadilah bagian dari buah proses politik, ambil peran dimulai dari dalam diri kita lingkungan kita dan kemudian untuk tujuan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Semua sendi kehidupan dimulai dari proses politik. Ada kebijakan yang dikeluarkan oleh para politisi itu merupakan proses politik yang harus dilalui sebelumnya. Jika orang tidak peduli akan bepengaruh kepada sendi kehidupan di kemudian hari. Ketika kebijakan tidak mementingkan masyarakat, contohnya merugikan mahasiswa, di sinilah tingkat kepentingan kita. Semua sendi kehidupan tidak lepas dari politik. Politik diperlukan orang-orang baik agar menghasilkan produk yang baik.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan dari diskusi ini bahwa politik itu ilmu pengetahuan yang didalamnya menyiapkan politisi untuk menjadi pemimpin bangsa agar secara maksimal dalam memberikan peran untuk memajukan bangsa.
Tentu saja generasi muda dari MIPA ini diharapkan bisa terjun di dunia politik agar nilai kemipaan ini bisa diterapkan, seperti kejujuran, ketekunan dan growt mindset agar dapat mensejahterakan bangsa ini.
Dalam pilkada, 14% penyumbang suara berasal dari gemerasi Z, salah satu penyebab ke-apatisan bisa dikarenakan gambaran buruk terkait politik dan kurangnya edukasi politik.itu.
Golput tentunya akan berdampak pada struktur kepemimpinan, dan dampak ini akan membawa nama politik kepada msyarakat awam, salah satunya kepada generasi pemuda yang minim edukasi politik itu sendiri.
Oleh karena itu sebagai generasi muda, mari bangun kedasaran diri kita untuk ikut bertanggung jawan dalam masalah politik ini. Bisa dimulai dengan menyampaikan pendapat kita terkait sebuah isu ataupun membangun diskusi aktif.
Usia kita saat ini adalah usia emas, maka jangan buta mengenai persoalan politik bahkan dalam sekala kecil seperti fakultas, karena akumulasi dari berbagai pembelajaran yang kita lalukan akan mengantarkan kita semua pada kesuksesan di masa depan.
by admin | Apr 13, 2021 | Uncategorized |
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingat Dasar (LKMM-TD) 2021 yang diikuti oleh pengurus ormawa dan mahasiswa FMIPA. Jumat, 2/4/21 di fakultas setempat. Para mahasiswa mendapatkan materi tentang Optimalisasi Kegiatan Ormawa untuk Pengembangan Life-skills yang disampaikan oleh Rio Christy Handziko, M.Pd. dan materi Manajemen Perubahan yang disampaikan oleh Dr. Pujianto, S.Pd. M.Pd. Acara diawali dengan sambutan dari Wakil Ketua BEM FMIPA UNY, Wakil Dekan Kemahasiswaan FMIPA UNY dan Dekan FMIPA UNY.
Dalam sambutannya, Dekan FMIPA, Prof. Dr. Ariswan, M.Si., beliau menyampaikan, para peserta akan mendapatkan ilmu baru selain yang telah diajarkan dosen. Latihan diberikan karena semua adalah orang hebat di fakultas ini. Ketika kehidupan sudah menuju kehidupan individualis, masyarakat semakin jauh dari kepedulian, maka mahasiswa mempunyai kepedulian melalui organisasi mahasiswa. “Akumulasi dari pengetahuan akan menuntun kita dalam menghadapi perjalanan masa depan untuk mencapai kesuksesan. Kegiatan ini menjadi awal sebuah perjalanan kemahasiswaan periode 2021 untuk menuju keberhasilan,” tegas Dekan.
Beliau menambahkan, ormawa adalah penyambung lidah dan penyambung tangan dekan, apa yang diperlukan mahasiswa FMIPA sehingga menjadi lebih hebat. Mahasiswa harus mampu memberikan peran yang nyata karena di era revolusi industry 4.0 akan berada di era kampus merdeka. Saat ini UNY sedang merumuskan implementasi kampus merdeka.
Sementara itu, Dr. Ali Mahmudi selaku Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA menjelaskan, ada kecenderungan pertumbuhan industri yang mekanistik, ternyata banyak dampaknya dan ada sisi-sisi kemanusiaan yang hilang. Kita butuh industry terbaru yaitu 5.0 yaitu the human interest. Ketika handphone (HP) sudah mewarnai kehidupan kadang dianggap sudah cukup mewakili apapun. Contohnya bertukar kabar dengan orang tua, meski sudah bertukar kabar lewat HP, orang tua tetap ingin diajak mengobrol dan didengarkan. Maka orang butuh literasi, dan literasi jauh lebih penting daripada sekadar keterampilan berfikir..

Kemudian, pada materi pertama, Rio Christy Handziko, M.Pd. menyampaikan bahwa kecakapan hidup dikelompokkan menjadi dua, yaitu Generic Life Skills (GLS), dan Specific Life Skills (SLS). Dalam hidup, kita perlu meningkatkan kecakapan hidup kita (Mastery Life Skills) yang dapat dimulai dari minat, mencari referensi dan partner, kemudian focus dan perbanyak latihan. Selain itu beliau juga menambahkan terkait personal branding, bahwa hal tersebut membantu kita untuk bisa dilihat dan dinilai oleh orang lain, sehingga orang yang membutuhkan dapat melihat potensi kita.
Pada materi kedua, Dr. Pujianto, S.Pd. M.Pd. menyampaikan bahwa perubahan dalam organisasi diperlukan satu pengelolaan perubahan agar proses dan dampak dari perubahan tersebut dapat diarahkan pada titik perubahan yang positif. Beliau juga menjelaskan terkait fungsi manajemen yang terdiri dari planning, organizing, actualing, controlling. Beliau juga menambahkan bahwa hakikat kehidupan adalah tumbuh dan berkembang atau dapat disebut “Perubahan”.
Keesokan harinya (3/4/2021), dilanjutkan kembali acara LKMM-TD 2021. Pada hari kedua, acara ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang telah siap mendapatkan materi mengenai manajemen organisasi. Materi ini disampaikan oleh Muhammad Adnan Fatron, BA. IR yang biasa dipanggil “Kang Adnan”. Beliau merupakan seorang People Development Trainer, Life Planning Consultant, dan juga founder dari @mudainspiratif.co.id.
Materi yang disampaikan berupa bagaimana cara untuk memanejemen organisasi pada saat kuliah dengan baik. Cara menghadapi masalah-masalah yang muncul pada saat beroganisasi juga disampaikan oleh beliau. Beliau juga menyampaikan beberapa wejangan atau nasehat bagi para peserta khususnya para generasi muda penerus bangsa. Nasehatnya adalah mengingatkan para generasi muda untuk tetap berada dijalan yang benar demi masa depan yang baik.
Setelah penyampain materi dari Kang Adnan selesai, dilanjutkan ke sesi tanya jawab. Salah satu peserta bernama bertanya kepada Kang Adnan tentang bagaimana menghadapi rekan-rekan di organisasi yang individualis dan ketika diberi tugas, dikerjakan sendiri. Kang Adnan menjawab, cara mengatasinya adalah dengan cara mendekati orangnya terlebih dahulu dan mengetahui bagaimana sifat orang tersebut. Acaranya selanjutnya adalah pembekalan Hackathon dan fasilitator bagi para peserta dilanjutkan dengan pengumuman penugasan video bagi peserta.
Dalam rangkaian acara LKMM-TD 2021, terdapat kegiatan hackathon. Hackathon ini berjalan selama 6 hari dimulai pada hari Minggu, 4 April 2021 sampai Jumat, 9 April 2021. Hackathon pada tahun ini mengambil 6 bidang yaitu pendidikan, kesehatan, sosial, sains dan teknologi, ekonomi, serta lingkungan. Peserta dibagi menjadi 10 kelompok yang masing-masing memiliki topik yang berbeda. Kelompok-kelompok tersebut terdiri dari 3 kelompok pendidikan, 1 kelompok kesehatan, 2 kelompok ekonomi, 2 kelompok saintek, 1 kelompok sosial, dan 1 kelompok lingkungan. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mengangkat permasalahan yang sesuai dengan bidangnya lalu mencari solusi berupa rancangan aplikasi atau rancangan aksi yang dituangkan ke dalam BMC (Business Model Canvas). Selama kegiatan hackathon ini, peserta didampingi oleh fasilitator di masing-masing kelompok. Fasilitator-fasilitator tersebut berasal dari 3 lembaga dengan rincian sebagai berikut:
- ABP Inkubator AMIKOM
- Eli Pujastuti
- Arvin Claudy Frobenius
- Donni Prabowo
- Master Trainer
- Yulisa Ratih Istiana
- Rositta Norma Dewi
- Helmi Yana Putri, S.P.
- Big Edu Indonesia
- Deski Dyansyah
- Muhammad Alfhi Saputra
- Nurkholifatul Maula
- Rodhiyah Nur Zulaikhoh, S.E.

Kegiatan hackathon dibagi dalam 3 sesi, sesi pertama berisi pembekalan awal oleh fasilitator, sesi kedua berisi konsultasi ide oleh peserta, dan sesi ketiga berisi finalisasi proyek oleh peserta. Hasil dari kegiatan hackathon yang berupa BMC tadi akan di presentasikan di hari terakhir yaitu Sabtu, 10 April 2021.
Hari kesembilan LKMMTD di laksanakan pada hari Sabtu, 10 April 2021. Acara dimulai dengan pembukaan pada pukul 09.15 dilanjutkan dengan presentasi kelompok di depan fasilitator yang dilakukan di dalam breakout room masing-masing. Presentasi 10 kelompok dinilai oleh juri yang merupakan fasilitator dari kelompok lain. Presentasi berlangsung dalam 30 menit yang di sertai oleh komentator juri. Presentasi dari 10 kelompok di ambil 3 kelompok terbaik yang akan dinilai kembali oleh 3 perwakilan juri yang berlangsung selama 1 jam. Dari 10 kelompok 3 kelompok terbaik yaitu kelompok 4, kelompok 9, dan kelompok 6. Waktu penjurian top 3 berlangsung selama 10 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab. Kelompok pertama untuk presentasi yaitu kelompok 4 yang mempresentasikan karya di bidang pendidikan berupa “Moni-study (Monitoring study)”. Setelah itu, dilanjutkan oleh kelompok kedua yaitu kelompok 6 yang mempresentasikan karya di bidang kesehatan berupa “Lilin Aroma Terapi Pereda Stress dari Minyak Jelantah”. Kelompok terakhir yaitu kelompok 9 yang mempresentasikan karya di bidang sosial budaya berupa “Eco Craft Yogyakarta”.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi personal branding oleh Kak Sherly Annavita Rahmi, S.Sos., MSIPh. Beliau menyampaikan bahwa personal branding era ini sangat diperlukan karena menjadikan kita dapat memperluas koneksi, kolaborasi, kepercayaan diri serta kepercayaan orang lain ke kita. Personal branding di mulai dengan mengenali diri sendiri, mengenali kelemahan dan kekurangan diri. Selain itu, menenentukan target masa depan yang memacu kita untuk bersemangat meraih kesuksesan dengan branding yang kita miliki. Jika kita bertemu dengan orang yang sefrekuensi, alangkah baiknya untuk membangun strategi untuk mencapai target yang sudah di rencanakan. Strategi personal branding yang bisa dilakukan untuk diri kita adalah untuk mau memulai, mencoba, dan berani keluar dari zona nyaman.
by admin | Apr 12, 2021 | Uncategorized |
Tanggal Pelaksanaan : Sabtu, 10 April 2021
Perwakilan dari BEM FMIPA UNY 2021 :
- Amri Shabirin (Ketua BEM FMIPA UNY 2021)
- Muhammad Taufiq Nurdien (Kabir Humas BEM FMIPA UNY 2021)
- Elang Seta Wiratama (Staff Humas BEM FMIPA UNY 2021)
Rakernas ILMMIPA merupakan kegiatan rapat kerja nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Adapun Ketua Umum ILMMIPA tahun 2021 adalah Kahadruddin HSN DM dari Universitas Riau. Karena adanya pandemi Covid-19 maka kegiatan rakernas dilaksanakan secara daring melalui media zoom pada hari Sabtu, 10 April 2021 dan dihadiri oleh 62 peserta. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui program kerja yang akan dilaksanakan pada satu tahun kedepan. Dalam ILMMIPA ada 6 Divisi sebagai berikut:
- Divisi Penelitian dan Pendidikan,
- Divisi Sosial Masyarakat,
- Divisi Kewirausahaan,
- Divisi Kajian Strategi dan Advokasi,
- Divisi Media dan Relasi, dan
- Divisi Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PPSDM).
Kegiatan tersebut di awali dengan perkenalan dan pemaparan program kerja masing masing divisi. Secara garis besar program kerja masing masing divisi dapat diuraikan sebagai berikut:
- Divisi Pendidikan dan Penelitian : divisi ini bertanggung jawab pada bidang pendidikan dan penelitian dengan program kerja goresan tinta.
- Divisi Sosial Masyarakat : divisi ini bertanggung jawab pada pengabdian sosial yang menjadi isu-isu sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
- Divisi Kewirausahaan : divisi ini bertanggung jawab pada pengembangan kemampuan mahasiswa dalam berwirausaha dengan program kerja membuat jaket ILMMIPA.
- Divisi Kajian Strategi dan Advokasi : divisi ini bertanggung jawab pada isu isu strategi dan melakukan advokasi dan kesejahteraan kebutuhan dasar dengan program kerja kastrad jalan jalan.
- Divisi Media dan Relasi: divisi ini bertanggung jawab pada menginformasikan kegiatan ILMMIPA dan melatih skill multimedia.
- Divisi PPSDM : divisi ini bertanggung jawab pada mengarahkan suber daya mahasiswa untuk mencapai sasaran yang tepat dengan pengembangan minat literasi dan sofskill.
Dokumentasi:

by admin | May 2, 2020 | Karispol, Uncategorized |
Inilah makna yang terlintas di benak kalangan pelajar setiap mengingat kembali momen perayaan hari Pendidikan Nasional. Kita ketahui bersama, sejarah mengatakan bahwa tanggal 2 Mei merupakan hari pendidikan dilandaskan atas rasa penghargaan terhadap perjuangan Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara dalam membangun peradaban Indonesia di mulai dari pendidikan. Namun terlepas dari historisnya, mengapa sih setiap pergantian pemangku pemerintahan selalu mengubah kurikulum? dan apa itu kurikulum? Atau lantas jangan-jangan adakah keterkaitan ini dengan permainan politik semata?.
Mari kita bedah satu per satu, di mulai dari pengertian dan makna kurikulum dalam sistem pendidikan. Menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, kurikulum merupakan kunci strategis dalam mengatur tatanan pendidikan dalam suatu negera.
Jika di tinjau dari sejarahnya, pendidikan Indonesia sudah mengalami 4 kali pendekatan kurikulum beserta revisiannya hingga saat ini. Pertama di awal kemerdekaan Indonesia, kurikulum yang dianut masih sebatas orientasi materi lalu hampir 20 tahun pascakemerdekaan kurikulum kembali direvisi dengan standar PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksionla), kemudian diubah kembali dengan model PKP (Pendekatan Keterampilan Proses) dan hingga sekarang pendekatan disempurnakan kembali menjadi KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dengan berbagai versi, misalnya KTSP dan Kurtilas.
Lantas mengapa kurikulum layaknya mainan Lego yang mudah sekali dibongkar pasang oleh setiap pemiliknya? Hal ini telah terjadi semenjak awal kemerdekaan Indonesia yakni pada tahun 1956 di mana kurikulum pendidikan secara nasional terbentuk. Tujuan diadakannya perubahan pada kurikulum “katanya” demi peningkatan ke arah pendidikan nasional yang lebih baik. Jikalau seperti itu mengapa setiap perubahan yang diadakan selalu menimbulkan kesan konstruksi baru dalam sebuah pembangunan.
Apakah karena terlalu parahnya struktur tersebut sehingga tidak bisa dibenahi atau dilanjutkan? Mungkin beberapa pertanyaan ini tidak sepenuhnya bisa terjawab, namun untuk menghindari perspektif salah terhadap perubahan ini timbullah beberapa alasan yang masih masuk akal.
1. Perubahan dan perkembangan zaman yang terus menuntut pendidikan di Indonesia untuk berubah menjadi lebih baik lagi, termasuk penyempurnaan kurikulum.
2. Sesuai dengan berkembang zaman, maka ilmu pengetahuan pun ikut berkembang dan tentun menghasilkan pendekatan, metode dan teori baru dalam memenuhi proses belajar mengajar.
Selain kedua pernyataan diatas masih terdapat banyak sekali pernyataan serupa yang menjelaskan alasan kurikulum selalu berdinamis alias berubah setiap pergantian pemangku kebijakan.
Terlepas dari itu semua, di dalam sebuah negara demokrasi seperti Indonesia tidak dapat dipungkiri bahwa orientasi politik dan praktek ketatanegaraan memegang peranan penting dalam perubahan kurikulum. Hal ini dilakukan guna memantapkan perpolitikan suatu bangsa sehingga sistem pendidikan akan berjalan dengan baik tanpa dibayangi ketakutan terhadap kekuasaan atau penguasa.
Oleh karena itu, kita selayaknya warga negara berkewajiban mendukung dan membangun sistem pendidikan yang lebih baik serta meminta apa yang sudah menjadi hak kita akibat konsekuensi negara dalam menjamin kehidupan bangsa terutama mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan tujuan negara yang tertuang dalam alinea keempat pada UUD NRI 1945.
-Hyuga-
Sumber:
Depdikbud. (2003). Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
PT Wira Inspira Nusantara. (2017). Mengapa kurikulum berubah?. Diunduh pada tanggal 28 April 2020 dari https://hohero.com/2017/01/mengapa-kurikulum-berubah/
Sukses, Kholiq. (2014). Faktor Penyebab Perubahan Kurikulum. Diunduh pada tanggal 28 April 2020 dari http://perpuspendidikan.blogspot.com/2014/04/faktor-penyebab-perubahan-kurikulum.html
by admin | Apr 7, 2020 | Info, Karispol, Uncategorized |
Keterkaitan Sehat Jasmani dan Rohani
Pada saat krisis layaknya pandemi virus tengah terjadi, banyak orang yang kemudian mengalami kepanikan dan kecemasan. Padahal banyak pendekatan yang dapat dilakukan sebagai sikap menjaga diri agar tidak mengalami kepanikan dan kecemasan, pendekatan teologis dan pendekatan ilmiah rasional misalnya. Seperti yang diungkapkan oleh seorang ahli bidang kedokteran kehairan Bukhara Uzbekistan pada tahun 980, Abu Ali al-Husayn ibn Abdillah ibn Sina atau lebih dikenal Ibnu Sina (Avicenna).
Salah satu teori beliau yang paling terkenal adalah “mens sana in corpose sano,” yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Teori ini sekaligus menjelaskan bahwasannya sakit tidak melulu disebabkan oleh lemahnya fisika tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi kejiwaan/mental yang lemah.
Pendekatan teologis sangat berkaitan dengan ketenangan jiwa yang kemudian dapat menjadi separuh obat. Dalam keadaan sehat orang yang memiliki ketenangan jiwa tidak dapat mudah terserang oleh berbagai penyakit jasmani dan rohani lantaran imunitas yang kuat pun terlahir dari hal yang demikian.
Pun sama halnya dengan pendekatan ilmiah rasional yang mencakup pola hidup sehat seperti memakan buah dan/atau sayur, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta semua protokol kesehatan dalam menghadapi COVID-19 misalnya.
Selama physical distancing digerakkan sejak 16 Maret 2020, sudah menjadi hal penting bagi kita semua untuk menjaga kesehatan baik fisik maupun mental. Kemenkes menerbitkan Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia untuk menjadi panduan terkait apa-apa yang harus dilakukan masyarakat di tengah penyebaran pandemi COVID-19 saat ini.
Kesehatan mental dapat dengan mudah terganggu kala pandemi virus dengan berlangsung, dipenuhi rasa cemas dan gelisah misalnya. Jika kesehatan mental terganggu, upaya meningkatkan imunitas fisik akan sia-sia. Oleh karenanya, ketika kesehatan mental terganggu, tidak ada gunanya mengetahui sudah berapa banyak orang yang terkena COVID-19, pasien yang meninggal dunia, dan berapa yang sembuh. Lantaran informasi tersebut hanya akan mengakibatkan kecemasan.
Sudah saatnya kita semua melawan virus corona dengan berupaya berpikir positif, merasakan emosi positif sekaligus menebarkan sinyal positif ke diri sendiri dan lingkungan.
Not only there is no health without mental health. There is no difference between mental and physical health. It is only health.
Dikutip dari salah satu materi kuliah keperawatan UNAIR mengenai peran psikoneuroimunologi dalam pengembangan ilmu keperawatan pun menjelaskan bahwasannya melalui pendekatakn psikoneuroimunologi, perawat yang bersikap otoriter dan cenderung sadisme merupakan tindakan yang akan menimbulkan/menjadi penyebab dari munculnya penyakit baru/tidak terjadi penyembuhan. Sehingga perawat sangat dituntut untuk dapat bersikap caring, altruistik, dan professional.
Hal ini menjadi sangat penting ketika persoalan penyakit/penyebaran COVID-19 ini dianggap hanya dilihat dari perspektif jasmani/material saja, namun juga sudah semestinya dapat dilihat dari perspektif spiritual/kejiwaan. Berbagai cara dan upaya yang dianjurkan oleh Kemenkes dan para psikolog atau ahli kesehatan jiwa sekiranya dapat kita laksanakan dengan baik dan maksimal, harap-harap ancaman pandemi virus ini berangsur mereda dan lenyap beriringan dengan semakin kuatnya imunitas secara lahir dan batin. (Ivan Affriandi)
Referensi:
Click to access PNI-RISET-09A.pdf
https://islam.nu.or.id/post/read/118661/3-tips-ibnu-sina-saat-menghadapi-krisis-kesehatan
https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/03/30/jiwa-raga-sehat-covid-19-lenyap/
by admin | Apr 5, 2020 | Uncategorized |
Diskriminasi yang kini kian marak terjadi merupakan gambaran kecil dari bagaimana diskriminasi yang terjadi secara luar biasa di masa lampau. Tepat 60 tahun lalu pembantaian Sharpeville terjadi. Banyak massa yang gugur karena menentang Politik Apartheid. Apa itu Politik Apartheid? Mengapa ditentang? Sedikit membuka masa lalu yang kelam, sejarah memang tidak perlu dibungkam.
Sebelumnya, pemisahan ras di Afrika telah terjadi setelah Perang Boer. Yang mana kemudian Uni Afrika Selatan dibentuk pada 1910 di bawah kendali Inggris, sehingga orang-orang Eropa di Afrika Selatan membentuk struktur politik baru di wilayah tersebut. Lantas, sejak awal telah diadakan pengimplementasian terkait dengan diskriminasi di Afrika Selatan oleh pemerintahan saat itu.
Pada awal abad ke-20, pemerintahan Afrika Selatan didominasi oleh minoritas kulit putih yang kemudian bertujuan untuk memperkuat keberadaan mereka dengan membuat suatu kebijakan politik. Kebijakan politik inilah yang akan menekan ‘kaum’ kulit hitam di Afrika Selatan. Mereka memberlakukan kebijakan Politik Apartheid. Apartheid sendiri berarti pemisahan. Tepat sekali, penerapan politik ini membuat orang-orang di Afrika Selatan dipisah-pisahkan atau dikotak-kotakkan. Mereka dikelompokkan sesuai dengan warna kulitnya.
Kala itu, kebijakan tersebut membuat empat kelompok ras, yaitu golongan kulit putih, golongan kulit campuran, golongan Asia, dan golongan kulit hitam. Dalam kesehariannya pun tidak dapat dipungkiri banyak sekali terjadi kesenjangan sosial yang diakibatkan dari adanya kebijakan ini. Tentunya kecemburuan sosial pun terjadi setelah adanya keijakan yang membuat kesenjangan. Hingga akhirnya ketidaknyamanan membuat ras kulit hitam memberontak demi memperjuangkan hak mereka sebagai manusia dan kesetaraan yang harus di junjung tinggi. Lantas, terjadilah aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh orang-orang yang menantang kebijakan Politik Apartheid.
Pembantaian Sharpeville diawali dengan unjuk rasa oleh 5000-7000 orang golongan anti-apartheid (Fathoni, 2017). Hingga sampailah puncaknya pada 21 Maret 1960 dengan tumbangnya 69 orang pada pembantaian Sharpeville. Berkaitan dengan hal tersebut, dunia tidak boleh membiarkan lagi terjadinya diskriminasi rasial. Semua manusia memiliki hak yang sama. Tidak boleh ada sekat diskriminasi di antara itu. Lalu, apa hubungan Politik Apartheid dan sianida?
Politik Apartheid secara tidak langsung adalah pembunuh yang keji namun bergerak secara diam. Memulai pemerintahan dengan suatu hal fatal yang tidak seimbang. Apalagi kalau bukan keadilan. Persamaannya dengan sianida adalah sama-sama pembunuh keji dan bergerak diam-diam namun hasilnya benar-benar mematikan. Bedanya, sianida menghancurkan fungsi-fungsi organ dan Politik Apartheid menghancurkan kemanusiaan. Keji bukan? Seharusnya perbedaan membuat manusia belajar menjadi sosok pribadi yang berwawasan tinggi, berintelektual, bertoleransi tinggi, dan memiliki rasa kemanusiaan. Perbedaan bukanlah suatu ancaman, melainkan suatu pembelajaran dalam hidup untuk dapat terus bersama-sama maju dan menciptakan perdamaian.
Referensi:
African Economic Cooperation Blog. 2017. Apa Itu Apartheid di Afika Selatan?. http://www.african-union.org/apa-itu-apartheid-di-afrika-selatan/
Fathoni, Rifai Shodiq. 2017. Politik Apartheid di Afrika Selatan 1948 – 1994 M. https://wawasansejarah.com/politik-apartheid-di-afrika-selatan/