by admin | Mar 4, 2014 | Opini, Uncategorized |
Ingatkah kalian saat dimana berjuta butiran debu menerpa langit Jogja?
Hari Minggu 16 Februari 2014 yang lalu, mahasiswa FMIPA UNY dikejutkan dengan pengumuman dari Rektor UNY yang menyatakan bahwa kegiatan akademik pada hari Senin,17 Februari 2014 ditiadakan dan diganti dengan kerja bakti membersihkan lingkungan. Kerja bakti ini dimaksudnya untuk membersihkan kampus UNY dari abu Gunung Kelud (abu Gunung Kelud terbawa sampai Yogyakarta lho) yang mengotori seluruh areal kampus dan membuat polusi dimana-mana. Dengan adanya abu dari Gunung Kelud, otomatis membuat areal kampus menjadi kotor dan menjadikan suasana tidak nyaman untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Kerja bakti inilah salah satu solusi untuk menjadikan kampus tempat belajar yang bersih dan nyaman sekaligus mempererat keakraban.

Sebenarnya pukul 07.00 kerja bakti seharusnya sudah dimulai, namun ketika sekitar pukul 07.15 kampus masih sepi. Baru sekitar pukul 08.30 kampus mulai ramai dengan cukup banyak mahasiswa yang datang. Menariknya para mahasiswa tersebut terlihat semangat sekali membersihkan kampus, mereka membawa sendiri peralatan kebersihan seperti cangkul, sapu, kain lap, ember bahkan sampai ada yang membawa makanan satu kardus lho :P.
“Kita bukan hanya bersama belajar saat suasana kampus terasa nyaman, tetapi kita juga harus bersama-sama untuk membuat kampus kita menjadi nyaman, ya kerja bakti inilah” kata desita salah seorang mahasiswa yang ikut melakukan kerja bakti.

Apa yang dikatakan Desita juga disepakati oleh Fika, mahasiswa lainya. “ Seru lho ikut kerja bakti, walapun capek tetapi melihat kampus jadi bersih seneng juga, “kata Fika. Ini membuktikan bahwa mahasiswa FMIPA UNY merupakan mahasiswa yang mempunyai rasa cinta dan peduli yang tinggi terhadap kampus UNY khususnya kampus FMIPA UNY. Saya cukup terharu melihat banyaknya teman-teman mahasiswa yang datang melakukan kerja bakti membersihkan kampus ini, terlepas dari diwajibkan atau enggak mereka rela meluangkan waktu mereka demi melihat kampus menjadi bersih. 😀 😀
^Opi^
by admin | Dec 12, 2013 | BEM in Action, Uncategorized |
AMT: SATU-kan Langkah
Ber-SAMA Gapai Asa

Telah terlukis indah
‘Seribu kisah’ dalam bingkai keber-SAMA-an
Ada asa, ada cinta untuk menyatukan langkah menuju MIPA YANG LEBIH BAIK
Dari generasi yang peduli akan PERUBAHAN
Yah, GENERASI yang merindukan warna kebaikan
Bersatu merajut MIMPI, mencoba memainkan peran sebagai “sosial control”
Mereka sangat yakin akan langkah yang sudah menjadi pilihan
Pilihan untuk maju di garda perubahan
Achievement Motivation Training
Merupakan satu step menuju puncak itu
Ingin memberi yang TERBAIK
Untuk MIPA, untuk INDONESIA
Bersama mentari
Memandang MIPA, memandang INDONESIA
Sembari berikrar untuk MEMBERI YANG TERBAIK
Bukan be-retorika belaka
Namun, dengan langkah nyata
Pastikan ada kontibusi aktif yang kita berikan
Sebagai aktualisasi idealita dalam realita
Terima kasih kepada panitia,
Kepada peserta AMT yang telah meluangkan waktu untuk satu MOMEN dari sederetan MOMEN dalam perjalanan langkah menuju puncak.
SATU-kan langkah,
Ber-SAMA gapai ASA.
Salam 1=SAMA
Salam KABINET GEMPITA
Tertanda
AMT (7-8 Dec’ 13) di Yayasan Darmais
by admin | Dec 1, 2013 | Buletin PILAR, Surat Kabar, Uncategorized |
Berhubung filenya berformat pdf… Jadi silahkan baca majalahnya disini –> http://id.scribd.com/doc/188245151/Majalah-Pilar-2
by admin | Nov 11, 2013 | Opini, Uncategorized |
SKETSA POLITIK DALAM BINGKAI MATEMATIK
oleh Mohamad Aziz Ali

Walaupun matematika merupakan ilmu pasti, sedangkan politik dan kekuasaan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ada beberapa titik temu antara keduanya. Menarik bila kedua entitas keilmuan ini disandingkan, terlebih dunia politik kian menjadi sorotan dalam dinamika kehidupan bernegara belakangan ini. Namun ada yang mesti diperhatikan ketika berbicara soal politik, yaitu stereotype politik yang negatif. Kondisi ini menyebabkan dunia politik cenderung dihindari,, menjelma menjadi alergi bagi sebagian orang. Erat kaitannya dengan kepemimpinan, namun sering kali dinodai kambing hitam nafsu meraih kekuasaan.
Idealnya stereotype politik yang negatif tidak menjadi tren yang terus berkembang, karena tentu akan berdampak kurang sehat bagi demokrasi bangsa ini, karena politik sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan. Selama ini, banyak terjadi kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan, apalagi ketika sudah dikaitkan dengan kata sakral “politik”. Banyak orang mengartikannya sebagai kedudukan atau posisi yang tinggi saja. Sehingga, posisi pemimpin diincar demi mendapatkan kedudukan tinggi dalam suatu kelompok atau lembaga. Kalau sudah begini, akan menjadi tren negatif ketika nanti yang terjadi adalah orang-orang yang ingin memimpin dikuasai oleh hasrat berkuasa bukan niat pengabdian.
Kembali pada titik temu yang disinggung diawal tulisan, politik yang kian negatif ingin dikaitkan dengan matematika. Lantas mengapa matematika? Bukankah cenderung akan menambah keruh stereotype politik dan tentunya menambah angker stereotype matematika yang memang dikenal sebagai ilmu sulit? Disini poin menariknya. Mengapa tidak kita coba ber-intermezo perihal sketsa dunia politik dalam bingkai matematik? Bukankah matematik memuat kaidah-kaidah unik yang mampu menghadirkan nuansa objektivitas dan kreativitas guna membuat stereotype dunia politik menjadi lebih baik? Mari kita analisis dan sintesis keduanya; men-sketsa kan politik dalam bingkai matematik!
(more…)